Kupu Keramik
Welcome bin wilujeng sumping di blog Kupu Keramik with Natas Setiabudhi. Blog ini berisi curhat ataupun sharing teknis tentang keramik art dan craft juga hal-hal lain berkaitan dengan keseharian penulis. Bila ada uneg2 mangga pamiarsa komentaran secara blak-blakan..any comment I will accept openly..
Best,
Natas Setiabudhi
Monday, October 22, 2012
Sunday, September 9, 2012
Pameran Kriya Indonesia 2012
This Exhibition was held at National Gallery of Indonesia

“REPOSISI”
14-24 September 2012
Pameran ini hendak memperlihatkan posisi (dan reposisi) ke-kriya-an dalam perkembangan seni rupa kontemporer, praktek desain, serta lingkup persoalan warisan tradisi budaya dan kemajuan industri. Pameran ini hendak memetakaan soal keragaman pada potensi kriya Indonesia dalam rangka pengembangan industri dan ekonomi kreatif Indonesia (Pengantar kuratorial: Asmudjo J. Irianto dan Rizky A. Zaelani).
Pameran ini diikuti oleh 60 kriyawan yang berasal dari Jakarta, Bandung, Jogja dan Bali. Medium ekspresi yang digunakan diantaranya keramik, kayu dan tekstil. Dilihat dari karya / produknya didominasi oleh kriayawan berbasis kriya individual bukan kriya tradisi.
(Foto: Landscape #1, Natas Setiabudhi)
(Foto: Landscape #1, Natas Setiabudhi)
Sunday, July 29, 2012
Dipping with Pussycat
When I work, my pussycat always accompany me. His name is Sotoy. The picture shows preparation for glazing the pot. The application technique is dipping. In my workshop, dipping is the main technique, besides spraying and pouring. Dipping and pouring I think the safest technique for applying the glaze (healthy factor), moreover the workshop doesn't have safety facility, such as spray booth, no good ventilation, masker etc.
As long as the pot can be dipped or poured, don't spray it. Besides the description of above, spraying is more complicated and needs extra energy, especially in the preparing process. Sometimes if we lack expertise in spraying, the layer is too thin and mottled. We must have principle for practicality, any shape can be dipped or poured with any support either by hand skills or tools. Spray may be effective if the pot has large size.
Glazing for the most people is the most troublesome activity. Impatient people may not be appropriate for this activity. In glazing we must doing carefully and neatly. Doing the glazing improperly will yield an unsatisfactory final result. May be there are people who disagree of this statement, on the contrary is the most pleasure activity. How about you?
Saturday, June 2, 2012
Making "handle" by Pulling
![]() |
| 1. Shape the clay like a carrot |
![]() |
| 2. Grasp, squeeze and pull gently downward the clay with water |
![]() |
| 3. Keep pulling to extend |
![]() |
| 4. Leave for a few minutes |
![]() |
| 5. Cut into pieces |
![]() |
| 6. Bend into circular shape |
![]() |
| 7. Handle in complete |
![]() |
| 8. Ready to attach to the mug |
Usually when we make a handle for a mug or teapot, we just coil the clay.
Sometimes it looks little bit weird as a whole of form. There is an alternative
for that, i.e. by pulling the clay as description of above. The result are more
elegant and natural. To get this ability only one word, practice.
When you bend the long clay sometimes the clay cracks (fig 6-7). You
can add a little bit dampness the clay by water. Another problem is attachment handle to the
body of the mug or teapot. Often the bond between body and handle not quite
good. The bond will have cracks or separate when they dried in the leather hard state. The causes could be that you don't damp both handle and body or damp one side
handle or body only. The standard procedure are scratch the body and apply
a fluid slip into both. Actually just smear with water is enough making in good
bonding. For this you can use toothbrush. The point is you must damp both sides, use water or slip.
Thursday, May 31, 2012
Monday, May 28, 2012
Complexities of Teapot
![]() |
| 1. Pelubangan bodi untuk spout bisa menggunakan mata bor |
![]() | |||||||||||
| 2. Sebelum masing-masing direkatkan, bodi dan spout-nya dikasari dulu dengan sikat gigi basah |
![]() |
| 3. Sebelum direkatkan, profil bagian belakang spout diiris miring sehingga mengikuti kontur dari bodi teko |
![]() |
| 4. Setelah spout rekat pada bodi, batas sambungan keduanya ditambal dengan tanah liat lembek |
![]() | ||||||
| 5. Teknik 'urut' pembuatan handle |
![]() |
| 6. Sebelum handle-nya dibentuk, diamkan beberapa lama sampai menjadi tidak terlalu basah |
![]() | ||||||||||
| 7. Handle yang sudah dibentuk |
![]() |
| 8. Teko yang sudah lengkap |
Dalam membangun sebuah teko, 'moment' adalah hal yang penting. Bila salah satu komponen teko tidak memiliki kondisi kelembapan yang sama, maka resikonya adalah tidak menyatunya dengan kuat diantaranya, sehingga timbul keretakan atau malah lepas dari batas sambungannya. Bagi sebagian keramikus, membuat teko adalah hal yang paling 'merepotkan' terutama dalam hal teknis pembuatan. Karena harus membuat beberapa komponen teko, seperti bodi, spout, handle, dan tutupnya. Belum lagi masalah 'moment' tadi.
Bagi saya, bentuk teko adalah bentuk yang paling lengkap segala kerumitan, kesulitan, dan estetika keramik secara umum, khususnya jika dibentuk menggunakan alat pelarik / putar. Seorang belum bisa dikatakan sebagai ahli putar, jika ia belum bisa membuat sebuah teko. Selain masalah teknis di atas dalam konteks benda fungsional, teko harus kelihatan unity (ada keserasian antara masing-masing komponen teko). Misalnya kalau bentuk bodinya bulat, bentuk yang lainnya pun demikian (paling tidak mendekati) atau keseimbangan posisi spout dan handle pada bodi dalam menciptakan bentuk teko yang elegan. Selain itu aspek ergonomis pun menjadi pertimbangan yang lain.
Thursday, May 24, 2012
"Amazing Moment"
Inilah saat-saat yang paling menegangkan, menunggu detik-detik akhir terlahirnya sebuah aterfak yang sangat unik dan eksklusif ke dunia ini. Pembakaran merupakan fase terakhir dari sebuah rangkaian fase yang begitu panjang dan melelahkan. Saat itu karya harus senantiasa diintip dan dipantau, agar mereka bisa mengatasi titik kritisnya dan kelak menjadi sebuah master piece. It's amazing moment, I think..
Subscribe to:
Posts (Atom)



























