Kupu Keramik


Welcome bin wilujeng sumping di blog Kupu Keramik with Natas Setiabudhi
. Blog ini berisi curhat ataupun sharing teknis tentang keramik art dan craft
juga hal-hal lain berkaitan dengan keseharian penulis. Bila ada uneg2 mangga pamiarsa komentaran secara blak-blakan..any comment I will accept openly..

Best,

Natas Setiabudhi

Thursday, January 30, 2014

Bali Trip #2

                        

                        

                        

Pada tahun 2009 saya berkesempatan untuk mengunjungi pulau dewata, Bali. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengunjungi teman, studio, sentra keramik, dan galeri yang ada di Bali. Lokasi galeri dan workshop teman saya berada di daerah Canggu, persis di depan jalan raya dimana sekelilingnya masih terhampar luas sawah-sawah. Foto di atas memperlihatkan beberapa sudut galerinya. Produknya kebanyakan hasil dari teknik putar dan slip casting. Tempat workshop dan galerinya bersebelahan, hanya dibatasi oleh partisi. Kesehariannya ia memproduksi benda-benda tableware. Sedang gaya berkeseniannya cenderung ke arah object. Selain itu, ia juga mengerjakan produk aksesoris keramik, seperti anting-anting dan kalung.     

Selain ke teman, saya juga mengunjungi sentra kerajinan Keramik Pejaten (keramik bakaran tinggi) dan gerabah hias di Pejaten, Tabanan . Sentra gerabah sudah ada sejak dari dulu, sementara keramik bakaran tinggi baru dikenal pada sekitar tahun 1985. Orang pertama yang mengenalkannya adalah Hester Tjebbes, berkewarganegaraan Perancis, kelahiran Belanda. Ia menyarankan kepada pak Tanteri yang merupakan tokoh masyarakat dan pelaku industri saat itu untuk melakukan pengembangan produk keramik selain keramik gerabah (earthenware/keramik bakaran rendah) di desa Pejaten. Ia meyakinkan bahwa dengan adanya material/bahan tanah liat baru (keramik stoneware/bakaran tinggi) bisa menghasilkan nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan keramik gerabah. Selain itu terdapat kekhawatiran terhadap bahan baku gerabah yang semakin menipis karena terjadinya eksplorasi besar-besaran, terutama dalam pembuatan bata merah dan genting. Ini terbukti saat ini sumber tanah liat di sekitar Pejaten sudah habis dan mereka mulai mencari sumber di daerah lain.

Pengenalan material baru ini berdampak terhadap perubahan teknologinya baik infrastruktur maupun teknik pembentukan dan dekorasinya. Tungku bakarnya harus bisa mencapai 1200 derajat celsius, untuk mempercepat produksi dibutuhkan mesin putar, untuk mengolah tanah dibutuhkan mesin ball mill, karena menggunakan tanah liat stoneware maka perlu bahan-bahan glasir, dsb. Teknik pembentukannya pun semakin berkembang dengan adanya alat-alat di atas, begitu pun dengan teknik dekorasinya. Tema estetik dekorasinya lebih ke arah flora dan fauna, seperti cicak, gajah, katak, daun-daunan, dan bunga-bungaan. Hingga saat ini tema flora dan fauna masih menjadi primadona pengrajin keramik di daerah ini.

Dalam melakukan pembinaan dan pelatihan keramik di Pejaten, Hester Tjebbes disponsori oleh sebuah yayasan Belanda HIVOS. Peserta pelatihan diberi fasilitas seperti materi pelatihan, bahan dan peralatan produksi, sewa tempat, fee peserta pelatihan, dan sebagainya. Tapi pada tahun 1992 proyek tersebut terhenti, karena ada masalah politis antara  pemerintah Indonesia dan Belanda. Meskipun demikian, waktu pelatihan selama 7 tahun sudah dirasakan cukup bagi sebagian pesertanya untuk bisa merintis sebuah workshop atau usaha keramik secara mandiri. Saat ini ada sekitar 5 perusahaan keramik bakaran tinggi yang masih eksis. Ada 2 perusahaan yang cukup besar, yaitu Tanteri Keramik yang diteruskan oleh anaknya yang bernama Oka Mahendra dan CV Keramik Pejaten yang  dimiliki oleh I Made Durya. Jumlah karyawannya antara 10 sampai 30 orang.

Sentra keramik Pejaten dikenal dengan produk utility-nya (aspek fungsi/kegunaan), seperti perangkat table top  yang terdiri dari teko set, piring, mangkok, tempat merica dan garam, asbak, vas bunga, aroma therapy, dsb. Teknik pembentukan yang umum dipakai adalah teknik putar dan teknik cetak (slip casting). Sementara itu untuk pengrajin gerabah hiasnya hanya tersisa beberapa orang saja. Ada salah satu yang merupakan tokoh pengrajin gerabah hias di desa Pejaten bernama Kuturan. Kebanyakan produk yang ia buat berupa hiasan taman/eksterior. Teknik pembentukan yang digunakannya adalah teknik handbuilding dan teknik cetak tekan (press molding). Pengrajin lainnya dengan alasan pasar, lebih memilih membuat genting dan bata untuk keperluan bahan bangunan daripada keramik hias. Khusus genting, peminatnya bahkan sampai ke luar negri, seperti Jepang dan beberapa negara eropa.  

Selain ke Pejaten saya berkunjung ke Gaya Keramik dan Tamin Keramik yang berada di Ubud, Gianyar. Gaya Keramik yang dikelola oleh orang  Italy dan Amerika ini memiliki kekhasan dalam produk raku-nya. Dikenal dengan istilah naked raku, dimana raku-nya  berbeda dari raku pada umumnya, baik jenis klasik (cara Jepang) ataupun western raku. Tidak ada karakter raku yang kehitaman atau berluster/berkilauan seperti hasil raku pada umumnya. Sedangkan Tamin adalah seorang keramikus otodidak asal Cimahi (Bandung) yang merantau ke Bali dan kemudian menetap di sana. Produknya begitu ke 'jepang-jepangan', baik bentuk ataupun glasirnya. Seringkali tempat workshopnya  menerima residensi seniman-seniman keramik baik dari dalam maupun luar negri.

Selain ke tempat-tempat di atas, saya pun berkunjung ke galeri kontemporer di sana, seperti Kendra Gallery  dan Biasa Gallery. Keduanya berada di daerah Seminyak, Kuta. Galeri tersebut banyak memamerkan seniman kontemporer Indonesia, baik seniman muda ataupun yang sudah senior.       

Thursday, January 16, 2014

My "New Kiln"




This is my "new kiln". After accompany me for 12 years, I recently have fixed my kiln. The ceramic fiber was already damaged, so the heat in the chamber was not effective anymore. Usually for one LPG (50 kilos) could be 4 times to fire high firing but recently become 3 times only. The sheet of steel was already rustic and make a hole especially on the roof of kiln. 

With that situation, I decide to fix my kiln. To make efficient firing I add one layer of ceramic fiber which before only 4 layers. The installing of ceramic fiber also changed to square which before it was an arch, so the capacity of wares in chamber increase. I wish the kiln less fuel and more effective either in firing or capacity of pieces.

The kiln use downdraft method and have 4 burners, two in the front (the door) and the rest in behind (the fire is made face to face). According to my experiences, the burner in that position (not from bottom) the most hot fire is in the bottom shelve, contrary with the bottom one. The kiln used 2 burners before, I experiment add two to wish the heat evenly and more efficient fuel. 



Wednesday, August 7, 2013

Reproduction the mold

2. Masking with separator
1. Let one part released (two parts left)






3. Round parts left by barrier
4. Ready to pour plaster slip


5. One part complete (new one)
6. Open 2nd part (old one) ready for new one 



















7. Three parts completely















To reproduce the molds is more easier than make it from beginning. Firstly join each part of mold, but let one part released (fig.1). If there is no sphere on the model, you can add clay on the top (fig.2). After pour for one part go for second part and so on until third part.

Every finished with each part mold, you must wash the surfaces by wet sponge and clean the remains or remove something untidy. After all parts mold completely use sand paper to make smoother and wash again until have clean surfaces (to remove separator). If there is still remains left e.g. separator, it will be stick between clay body and the mold. Or if inner shape of mold has potentially stuck, the ware will be deformed or damage when opened, so you must remove some parts neatly.    

Tuesday, July 16, 2013

Make a Model: Clay to Plaster

There is one of way for making plaster model from clay model. Sometimes we will have difficulties technically to modelling the plaster model. We can not easily cutting or adding for the shape if compared with clay.

In this way you firstly must making the model from clay. The plaster cover don't too thick approximately 2 cm. To add the plaster slip to clay model like a sculptor way little by little. Next step you mark the plaster surface by knife and saw it until 2 millimeter depth not through. If cut through there is no bonding if paired back.  

When you will release plaster model from the mold, it doesn't matter the mold become broken or damage. You first must save the model. To make easier you must divide each part of model correctly, furthermore for making casting mold. Wrong in dividing, definitely will have difficulties in releasing model from the mold (model stuck in mold). In this situation potentially what you have done will be unsuccessful. Sometimes you must start from beginning again. 

1. Ready to pour plaster
2. Cut by knife just for mark, not through

3. Use saw but not through
4. Use hammer to hit knife grib to make 2 pieces 

5. Two pieces
6. If paired back will have exactly joined
8. Pour the plaster slip
7. Masking with separator


9. After opened and have sand paper
10. The results